ELEMEN-ELEMEN DASAR MENGAJAR PENDIDIKAN JASAMANI DAN OLAHRAGA
ELEMEN-ELEMEN DASAR MENGAJAR PENDIDIKAN JASAMANI DAN
OLAHRAGA
MAKALAH
Untuk memenuhi tugas mata
kuliah
Kapita Selekta Pendidikan
Olahraga
Yang dibina oleh Dr. Sapto Adi M.Kes
Oleh
TESA ALEX SUHENDRA
160614801164
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN OLAHRAGA
November, 2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Masyarakat
secara acak yang telah mengenyam pendidikan apa yang mereka pahami tentang
pendidikan jasamani dan penulis yakin jawaban yang diberikan oleh setiap invidu
selalu berbeda dan bervariasi menurut pengalaman yang di alamin waktu belajar
di sekolah. Mungkin ada yang mengatakan bahwa pendidikan jasmani itu sama
artinya dengan pelajaran bermain, senam, latihan atletik olahraga dan
lain-lain.
Kata elemen berasal dari kata Latin elementum yang berarti
bagian-bagian dasar yang mendasari sesuatu. Perkembangan kata ini di bahasa
Latin sangat dipengaruhi oleh kata Bahasa
Yunani stoicheion, akar
kata persisnya yang tak dikenal. Pendidikan Jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui
aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan
motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif, dan
kecerdasan emosi. Lingkungan belajar diatur secara seksama untuk meningkatkan
pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah, yaitu jasmani, psikomotor, kognitif
dan afektif. Pendidikan Jasmani
Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan secara
keseluruhan, Pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung
seumur hidup, pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan yang diajarkan di
sekolah memiliki peranan sangat penting, yaitu memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui
aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan yang terpilih yang dilakukan secara
sistematis. Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina
pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik, sekaligus membentuk
pola hidup sehat dan bugar sepanjang hayat.
Pendidikan
memiliki sasaran pedagogis, oleh karena itu pendidikan kurang lengkap tanpa
adanya pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, karena gerak sebagai
aktivitas jasmani adalah dasar bagi manusia untuk mengenal dunia dan dirinya
sendiri yang secara alami berkembang searah dengan perkembangan zaman. Selama
ini telah terjadi kecenderungan dalam memberikan makna mutu pendidikan yang
hanya di kaitkan dengan aspek kemampuan kognitif. Pandangan ini telah membawa
akibat terabaikannya aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, seni, psikomotor,
serta life skill. Dengan di terbitkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan akan memberikan peluang untuk
menyempurnakan kurikulum yang komprehensif dalam rangka mencapai tujuan
pendidikan nasional. Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan merupakan
media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan
motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai
(sikap-mental-emosional-sportivitas-spiritualsosial), serta pembiasaan pola
hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan
kualitas fisik dan psikis yang seimbang.
Pengertian itu memberikan pandangan
yang sempit dan menyesatkan arti pendidikan jasmani yang sebenarnya. Walaupun
memang benar aktivitas fisik itu mempunyai tujuan tertentu, namun karena tidak
dikaitkan dengan tujuan pendidikan, maka kegiatan itu tidak mengandung
unsur-unsur pedagogik. Pendidikan jasmani bukan hanya merupakan aktivitas
pengembangan fisik secara terisolasi, akan tetapi harus berada dalam konteks
pendidikan secara umum (general education). Sudah barang tentu proses tersebut
dilakukan dengan sadar dan melibatkan interaksi sistematik antar pelakunya
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana Pendidikan
Jasmani Dan Olahraga?
2.
Seperti apa elemen-elemen dasar mengajar
pendidikan jasmani dan olahraga?
3.
Bagaimana
Dasar Falsafah Pendidikan Jasmani?
1.3
Tujuan Penulisan
1.
Untuk mnegetahui
Bagaimana Pendidikan Jasmani Dan Olahraga
2.
Untuk mnegetahui Seperti
apa elemen-elemen dasar mengajar pendidikan jasmani dan olahraga
3.
Untuk mnegetahui Bagaimana Dasar Falsafah Pendidikan
Jasmani
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Pendidikan Jasmani Dan Olahraga
Dari sejarah
pendidikan jasmani yang ada di Indonesia telah dikenal dengan istilah lichamelijke opvoeding, kemudian dari
istilah beberapa bahasa inggris dengan physical
education dengan pengertian masih perlu penjelasan bahwa Dikjas bukanlah pendidikan terhadap jasmani
tetapi pendidikan lewat jamani. Rijdrop dalam Harsuki (2003:5) mengatakan yang
sangat tepat itu istilah leibeserziehung, mempersalahkan hidup dengan kehidupan.
Harsuki
(2003:5) menyatakan beberapa batasan yang mengutarakan bahwa Dikjas itu
pendidikan, antara lain:
1.
BUCHER (1960) menitik beratkan bahwa
Dikjas merupakan bagian yang integral dari proses pendidikan tatal, dan
merupakan lahan untuk mencoba mencapai tujuan untuk mengembangkan kebugaran
fisik, mental, emosi dan sosial rakyat melalui media aktivitas fisik.
2.
Rijsdrop (1971) mengutarakan bahwa Dikjas
itu pendidikan. Dan pendidikan itu menolong anak atau anak muda mencapai
kedewasaanya.
Tetapi kedua rumusan
batasan menyatakan pendidikan jasmani itu pendidikan, maka istilah pendidikan
merupakan satu hal yang mempunya dua arti. Untuk menghidarai hal tersebut
sebaiknya pendidikan jasmani menurut Harsuki (2003:5) menyatakan bahwa
pendidikan jasmani merupakan sebuah proses interaksi anatara peseerta didik
dengan lingkungan, melalui aktivitas jasmani yang dikelola secara sistematis
untuk menuju manusia yang seutuhnya.
Harsuki (2003:26)
mengatakan Banyak pakar dari berbagai dunia telah mengartikan dan berpendapat
tentang pendidikan jasmani, dimulai pelopor dari Amerika Serikat.
1.
Menurut Nash (1948:53) pendidikan jasmani
adalah suatu fase dari pendidikan keseluruhan dan memberikan sumbangan kepada
semua tujuan dari pendidikan. Diterangkan selanjutnya bahwa aktivitas jasmaniah
yang menjadi media untuk mencapai tujuan pendidikan
2.
Bookwalter (1951:12) pendidikan jasmani
sebagai satu proses, adalah satu fase dari pendidikan yang mempunyai kepudulian
terhadap penyesuaian dan berkembangan dari individu dan kelompok yang melalui
aktivitas-aktivitas jasmani terutama tipe aktivitas berunsurkan permainan.
3.
Nixon dan jawet (1980:10) menyatakan bahwa
pendidikan jamani adalah satu fase dari proses pendidikan keseluruhan yang
peduli terhadap perkembangan dan pengunaan kemampuan gerak individu yang
sifatnya sukarela serta bermakna dan terhadap reaksi yang berlangsung
berhubungan dengan mental, emosional dan sosial.
Departemen olahraga yang
menghapus kata pendidikan jasamani tersebut ketika itu menyatukan pula semua
pendidikan kaderisasi tenaga guru ataupun pelatih dengan membentuk satu jenis
lembaga yaitu sekolah olahraga san sekolah menengah olahraga. Olahraga
dimaksudkan utuk membangun manusia Indonesia baru, yakni manusia yang baik
secara mental maupun fisik tegap, gagah, tinggi bukan yang kecil, pendek,
ceking dank urus seperti anggapan yang ada ketika itu. Tentu ini saja merupaka
sebuah tujuan jangka panjang, bahkan bisa lebih dari satu generasi. Ketika itu
menjadi juara tidak dapat dipakai hanya untuk menjadi kepetingan semata, namun
harus dipandang sebagai kepentingan negara dan bangsa atau mengharumkan nama bangsa
dan negara. Mulailah, khususnya sport
yang kompetitif dipandang sebagai asset politik.
Olahraga sebagai kata
majemuk sebagai berasal dari kata olah dan raga. Oalah artinya upaya untuk
mngubah atau mematangkan, seperti olah tanah yang berarti menyaiapkan agar
dapat ditanami. Arti yang lain adalah untuk menyempurnakan seperti yang
dijelaskan pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Menurut Harsuki (2003:45)
Olahraga, baik dalam arti upaya untuk menyempurnakan maupun aktivitas fisik
mencangkup lima kegiatan yang beragam.
1. Kesehatan
2. Pendidikan
jasmani
3. Rekreasi
4. Sprot
5. Tari
Menanggapi
kerancuan tersebut ini dalam tulisan ini akan dipaki istilah seperti yang
tercantum dalam daftar ke lima diatas, sedang kata olahraga tetap dalam
pengertian yang mencangkup keseluruhan agar dapat konsistensi. Apabila dijumpai
kata olahraga dalam tulisan lain hendaknya dapat ditangkap maksudnya apakah itu
menyeluruh, upaya menyempurnakan raga atau aktivitas fisik, atau ahanya salah
satu daripadanya yakni sport saja.
Upaya penyeragaman di Komisi disiplin ilmu keolahragaan dari direktorat jendral
pendidikan tinggi tahun 2001, umpamanya mengganti pendidikan jasmani menjadi
olahraga pendidikan belum dapat diselesaikan.
Akademi pendidikan jasmani didirikan di
Surabaya tahun1941, kerena tak dapat mendatangkan lagi guru pendidikan jasmani
dari negeri Belanda. Tujuan pendidikan jasmani ketikak itu adalah untuk
memelihara dan mingkatkan kesehatan anak. Karena perang ke II terpaksan akademi
ditutup dan dibuka kembali pada tahun 1947 di Bandung. Sementara itu kemetrian
pendidikan dan pengajaran Republik Indonesia pada tahun yang sama membuka
lembaga pendidikan jasmani untuk peningkatan tujuan pendidikan,
mengaktulisasikan sikap, tindak dan karya sesuai dengan cita-cita kemanusian,
dan di Yogyakarta dibuka akademi yang serupa.
Definisi pendidikan
jasmani banyak dibuat oleh pakar terkemuka, namun pada dasarnya semua
menyatakan bahawa pendidikan jasmani adalah upaya pendidikan melaui aktivitas
fisik. Pendidikan diartikan sebagai upaya bantuan tubuh kembang keseluruahan
kepribadian. Berdasarkan Sk. Mendikbud 431/u/1987 maka devinisi pendidikan
jasmani di Indonesia berbunyi, pendidikan jasmani merupakan bagian intergral
dari pendidikan keseluruhan yang bertujuan meningkatkan individu secara
organic, neuromuskuler, intelektual dan emosional melalui aktivitas fisik.
Menurut Harsuki (2003:48)
Agar lebih tuntas di bawah ini dicantumkan bebrapa perbedaanya deng sedidkit
penjalsanya
Pendidikan jasmani
|
Olahraga
|
|
Tujuan
Materi
Sifat latihan
Bentuk
Gerak
Kurang terampil
Peraturan
Peserta
Talent scoting
|
Pendidikan (tumbuh kembang keseluruhan
kepribadian)
Berpusat kepada anak (apa yang dapat
dilakukan oleh anak) – gain score
Multirateral
Tidak harus dipertandingkan
Seluas kehidupan sehari-hari
Mendapat perhatian ekstra
Tak ada pembakuan permainan
Wajib
Dipakai untuk entry bahavior
|
Kinerja motoric
Berpusat pada bahan-bahan latihan- final
score
Spresifik
Pertandingan
Terbatas pada gerak fungsional cabang
yang bersangkutan
Terpaksa ditinggalkan (tidak dipasang)
Dilakukan
Bebas
Untuk memilih atlit berbakat
|
2.2
elemen-elemen dasar mengajar pendidikan jasmani dan olahraga
1.Peran
Filsafat Dikjas
Wuest
dan Bucher dalam harsuki (2003:6) menyatakan bahwa filsafat pendidikan jasmani
dan olahraga dpat membantu para guru atau pakar Dikjas untuk meyakini Dikjas
dan olahraga serta mampu menjawab semua yang bertentangan dengan filsafat
Dikjas dan olahraga. Filsafat Dikjas dan olahraga membantu terhadap mecam-macam
fungsi berikut beberapa fungsinya:
1)
Menghubungkan kata Dikjas dan olahraga
2)
Mampu menghasilkan perbaikan keahlian
(propesional)
3)
Merupakan hal yang penting bagi pendidikan
keahlian
4)
Akan membimbing ke arah keahlian
5)
Memberikan tuntunan bagi pencarian
(provesi) dan program individual
6)
Membuat masyarakat menyadari bahwa Dikjas
dan olahraga memeberi konstribusi terhadap nilai-nilai
7)
Dapat membentu semua anggota profesi
saling mengadakan pendekatan
8)
Menjelaskan hubungan antara Dikjas dan
olahraga dengan pendidikan umum
9)
Penting bagi para guru dan pakar Dikjas
2. Program
pendidikan jasmani
Harsuki (2003:52) Empat
komponen utama dalam pengembangan program pendidikan jasmani.
1)
Pertubuhan dan perkembangan organik
Kesegaran jasmani yang
meningkat akibat sebagai latihan yang bersemangat akan menunjang potensi
belajar siswa. Untuk meningkatkan sikap positif terhadap aktivitas fisik dan sekaligus bertanggung jawab terhadap
kesegaran sendiri, siswa seharusnya: 1) Berpartisipasi aktif dalam kegiatan
atau aktivitas fisik, 2) Menghayati kebutuhan latihan dan tahu bagaimana tubuh
meresponnya, 3) Mengembangkan kesehatan melalui efisiensi pernafasan dan
peredaran darah, 4) Mengembangka fleksibilitas kekuatan otot, tahan otot, 5)
Dan mengenal komposisi tubuh.
2)
Keterampilan neoumuskuler motorik
Kerampilan
ini adalah keterampilan yang dapat di pelajari untuk suatu kinerja yang efisiensi Kosistensi dan aman. Untuk
memperoleh keterampilan dan keuntungan motoric baik keuntungan fisik maupun
sosial, siswa tidak hanya memiliki keterampilan semata, tetapi perlu juga
menyenangi belajar dan memanfaatkanya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal
ini siswa akan mengalami kesenangan yang dapat diperoleh dengan mengguanakan
tubuh secara efisien da aman, siswa seharusnya:
a.
Memahami bagaimana keterampilan dapat
diperoleh dan diperhalus
b.Menguasai
dasar
-
Keterampilan locomotor dari berjalan,
lari, melompat, berjingkat dan loncat
-
Keterampilan dari non-lokomotor dari
membungkuk, merentang, mengaun dan berputar
-
Kemampuan memanipulasi dari memukul,
menangkap, menendang dan melempar
Seperti yang disebut
diatas olahraga harus melakukan pembakuan sedangakan pendidikan jasmani tidak
mengenalnya dan gerak yang diberikan seluas kehidupan sehari-hari. Pendidikan
jasmani harus:
a. Mengaitkan
keterampilan yang dipelajari dengan pengalaman sehari-hari
b. Juga
belajar keterampilan khusus kativitas olahraga, rekreasi dan budaya
c. Mengembangkan
efisiensi gerak melalui kesadaran konetik lanjut
d. Koordinasi,
kecepatan, agilitas, keseimbangan dan kekuatan.
3)
Perkembangan intelektual
Perkembangan
jasmani juga bemanfaat untuk perkembangan intelektual. Pada dasarnya gerak dan
anak tidak dapat dipisahkan dalam prosesnya. Anak yang pendiam bukan berarti
anak yang baik, namun kemungkinan ada yang tidak sesuai pada diri anak
tersebut. Sekolah memaksa anak untuk diam dan mendengarkan guru saat menjelaskan
pelajaran yang menginkari kebebasan anak
untuk bergerak secara leluasa. Pendidikan disini memberikan kompensasi, dan
anak diberikan kesempatan untuk bergerak mengekpresikan dirinya, meneriakkan
sesuai apa yang dia lakukan. Keinginan anak bergerak seharusnya dipertahankan
karena hal itu sesuai dengan kekanakannya. Selain menjadi rangsangan
pertumbuhan dan perkembangan fisik setidaknya pendidikan jasmani membantu
memelihara keseimbangan perkembangan psikologi anak setelah tertekan berjam-jam
dibebani pikiran yang trepusat pada pembelajaran akademik.
4) Perkembangan
Emosional Atau Perkembangan Pribadi Dan Sosial
Perkembangan
ini berguna mengikut sertkan siswa dalam aktivitas yang menuntut upaya
individual dan interaksi dengan yang lain. Menyenangi dan sukses dalam
aktivitas fisik dan meningkatkan
kepecayaan diri dan kesadaran sosial. Pendidikan jasmani kerena itu terkait
dengan harga diri, menetapkan tujuan secara realistic, mampu mengatasi strees,
sensitivitas, toleransi kepemimpinan dan keanggotaan, koperasi dan konsiderasi,
ekspresi dan komunikasiserta kepercayaan untuk berpartisipasi. Harga diri
adalah kapasitas untuk merasa baik tentang diri sendiri, siswa dapat
meningkatkan percaya diriya dengan berbagai cara umpamanya dengan menambah
kompetensi pribadi atau ikut serta dalam aktvitas yang memperhatikan dan
mendorong ekspresi budaya.
3.
Kegembiraan Dan Kesegaran Jasmani Melalui
Pendidikan Olahraga
Sukarma dalam Harsuki (2003:61) Guru
pendidikan disekolah mengajarkan berolahraga kepada anak didik guna mendapatkan
kegembiraan dan kesehatan melalui pendidikan jasmani untuk itu perlu
dikenalkan. Dalam proses pembelajran seorang guru harus pandai dan cermat untuk
membuat suasana dalam pembelajaran itu sangat nyaman dan dan kegembiraan
dirasakan pada setiap peserta didik. Sehingga guru harus paham Beberapa aspek
dalam:
Physical:
endurance, strength, body control, coordination, relaxation, felsibility, sport
skills, and recreational skills.
1)
Daya tahan, sangat diperlukan bagi fisik
dalam melakukan kerja yang berat dan dalam waktu yang panjang.
2)
Kekuatan otot, sangat diperlukan bagi otot
dalam melakukan kotraksi dan relaksasi guna melakukan pekerjaan yang dapat
melakukan pekerjaan yang dapat membengkokkan dan meluruskan agar tubuh dapat
bergerak
3)
Menguasai tubuh, sangat diperlukan dalam
mengatur anggta badan untuk dapat melakukan sesuatu yang diperlukan bagi
pergerakan tubuh.
4)
Koordinasi, sangat diperlukan dalam usaha
melakukan gerakan yang teratur, teliti dan tepat
5)
Relaxation, adalah kegiatan yang
menyebabkan anggota tubuh menjadi istirahat dan tidak berkontaksi terhadap
suatu pekerjaan.
6)
Flexibility, adalah anggota tubuh yan sifatnya
mengatur, sehingga tubuh lebih elastis dari keadaan bisanya.
7)
Kemampuan berolahraga, anak akan lebih
baik apabila anak sedini mungkin dikenalkan dengan olahraga yangdiminati.
8)
Recreatinonal skills, adalah kemampuan
anak melakukan kegiatan reaksi sesuai dengan apa yang selalu diajarkan dan
dilakukan
Latihan untuk omosianal sosial dan
intelektual
1) Latuhan
untuk mental
-
Melepaskan untuk ketegangan melalui
berbagai latihan
-
Kecekupan kegembiraan dan keramah-tamahan
yang dikembangakn melalui aktivitas satu sama lain
-
Kesiapan mental dalam situasi keaktifan
-
Kepercayaan diri sendiri dan selurus grunb
dalam satu permainan
2) Sosial
-
Menguasai peraturan dan
ketentuan-ketentuan
-
Benar-benar ahli dalam berbagai kegiatan
3) Intelektual
-
Perasaan dalam satu grub
-
Rasa hormat terhadap kebenaran dan
perasaan jujur terhadap orang lain
-
Sangat bertanggung jawab dan percaya pada
diri sendiri
4. Ruang Lingkup Pendidikan Jasmani
Menurut
Rahayu (2013:26) Ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan
Kesehatan meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
1)
Permainan dan Olahraga meliputi: olahraga
tradisional, permainan eksplorasi gerak, keterampilan lokomotor
non-lokomotor,dan manipulatif, atletik, kasti, rounders, kippers, sepak bola,
bola basket, bola voli, tenis meja, tenis lapangan, bulu tangkis, dan beladiri,
serta aktivitas lainnya.
2)
Aktivitas Pengembangan meliputi: mekanika sikap
tubuh, komponen kebugaran jasmani, dan bentuk postur tubuh serta aktivitas
lainnya.
3)
Aktivitas Senam meliputi: ketangkasan sederhana,
ketangkasan tanpa alat, ketangkasan dengan alat, dan senam lantai, serta
aktivitas lainnya.
4)
Aktivitas Ritmik meliputi: gerak bebas, senam pagi,
SKJ, dan senam aerobic serta aktivitas lainnya.
5)
Aktivitas Air meliputi: permainan di air,
keselamatan air, keterampilan bergerak di air, dan renang serta aktivitas
lainnya
6)
Pendidikan Luar Kelas, meliputi:
piknik/karyawisata, pengenalan lingkungan, berkemah, menjelajah, dan mendaki
gunung.
7)
Kesehatan, meliputi penanaman budaya hidup sehat
dalam kehidupatt sehari-hari, khususnya yang terkait dengan perawatan tubuh
agar tetap sehatHakikat Pendidikan Jasmani
Menurut
Rahayu (2013:17) Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan
yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam
kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental serta emosional. Pendidikan
jasmani memperlakukan siswa sebagai sebuah kesatuan utuh, makhluk sosial, dari
pada hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan
mentalnya. Definisi pendidikan jasmani tidak hanya menunjuk pada pengertian
tradisional dari aktivitas fisik. Kita harus melihat istilah pendidikan jasmani
pada bidang yang lebih luas dan lebih abstrak, sebagai satu proses pembentukan
kualitas pikiran dan juga tubuh.
Materi mata
pelajaran pendidikan jasmani meliputi pengalaman mempraktikkan keterampilan
dasar permainan dan olahraga, aktivitas pengembangan, uji diri, aktivitas
ritmik, akuatik (aktivitas air) pendidikan
luar kelas (outdoor education), dan kesehatan. Materi-materi semacam ini
disajikan untuk membantu peserta didik agar memahami mengapa manusia bergerak
dan bagaimana cara meiakukan gerakan secara aman, efisien dan efektif. Adapun
implementasinya perlu dilakukan secara terencana, bertahap dan berkelanjutan
yang pada gilirannya siswa diharapkan dapat meningkatkan sikap positif bagi
diri sendiri dan menghargai manfaat aktivitas jasmani.
2.3 Dasar
Falsafah Pendidikan Jasmani
1. Landasan Pendidikan Jasmani
Pada
hakikatnya pendidikan jasmani memiliki landasan yaitu menjunjung tinggi nilai sportivitas.
Dalam mewujudkan nilai tersebut, guru harus menanamkannya melalui aktivitas
pendidikan jasmani yang dilaksanakan di sekolah. Aktivitas jasmani sudah
menjadi bagian bagi semua orang (sport for all), karena aktivitas
jasmani sifatnya terbuka bagi semua lapisan sesuai dengan kemampuan,
kesenangan, dan kesempatan. Tanpa membedakan hak, status sosial, atau derajat
di masyarakat. Aktivitas jasmani tetap dan akan tetap menjadi miliki semua
lapisan.
1) Tingkat Kejujuran melalui Pendidikan
Jasmani
Tingkat kejujuran
seseorang dalam kegiatan jasmani sangat ditentukan oleh motivasinya. Hartmut
Gabler (1995:239) memaparkan bahwa alasan mengapa seseorang berperilaku jujur
ditunjukkan motivasi, adapun motivasi yang paling tinggi pengaruhnya terhadap perilaku jujur adalah
motivasi intrinsik daripada motivasi
ekstrinsik Ini secara khusus menerapkan dua dimensi yaitu empati sebagai alasan kejujuran dan
kejujuran menjadi hukum sistem sosial
yang berupa nilai-nilai dan norma.
2) Pendidikan Jasmani Dan Nilai Moral
Berdasarkan
hasil penelitian Peiser (1995:251) menjelaskan bahwa, pendidikan
dihadapkan dengan persoalan cabang olahraga yang tidak mengenai jarak antara
pelakunya apabila mereka ingin mencegah terjadinya kekerasan dalam olahraga
selama kegiatan itu dilakukan, memang sangat disadari sekali bahwa ada beberapa
cabang olahraga yang tidak bisa menghindari terjadinya body contact seperti sepak bola, bola basket, tinju, karate, dsb.
Hingga
saat ini tidak ada bukti yang konsisten bahwa olahraga di sekolah berdampak
negatif bagi para pelaku dan penikmat olahraga. Tentu saja banyak sekolah,
orang tua, dan siswa-siswa remaja yang tidak mengindahkan tujuan pendidikan dan
mereka lebih mengejar kemenangan dan predikat juara. Olahraga dapat
menggairahkan dan orang yang tergabung dengan tim sekolah kadang-kadang
memerlukan bimbingan untuk tetap berada pada program-program yang telah
ditentukan agar seimbang antara waktu sekolah, latihan, dan istirahat. Selain
guru, orang tua juga harus peka terhadap tujuan pendidikan siswa-siswanya.
2. Ciri Unik Pendidikan Jasmani
Menurut
Rahayu (2013:12) Pendidikan jasmani merupakan suatu bagian yang tidak
terpisahkan dari pendidikan umum. Lewat program penjas dapat diupayakan peranan
pendidikan untuk mengembangkan kepribadian individu. Tanpa penjas, proses
pendidikan di sekolah akan pincang.
Ada beberapa
hal penting yang bisa menjadi sumbangan unik dari pendidikan jasmani (Dauwer
and Pangrazy, 1992), yaitu:
1) Kebugaran dan Kesehatan
Kebugaran
dan kesehatan akan dicapai melalui program pendidikan jasmani yang terencana,
teratur dan berkesinambungan. Dengan bertambah baiknya sistem kerja tubuh akibat latihan,
kemampuan tubuh akan meningkat dalam hal daya tahan, kekuatan dan kelentukannya.
Demikian juga dengan beberapa kemampuan motorik seperti kecepatan, kelincahan
dan koordinasi. Pendidikan jasmani juga dapat membentuk gaya hidup yang sehat.
Sikap itulah yang kemudian akan membawa siswa pada kualitas hidup yang sehat,
sejahtera lahir dan batin, yang disebut dengan istilah wellness. Konsep sehat dan sejahtera secara menyeluruh berbeda
dengan pengertian sehat secara fisik. Siswa didik untuk meraih gaya hidup sehat
secara total serta kebiasaan hidup yang sehat, baik dalam arti pemahaman maupun
praktiknya. Kebiasaan hidup sehat tersebut bukan hanya kesehatan fisik, tetapi
juga mencakup juga kesejahteraan mental, moral dan spiritual.
2) Keterampilan Fisik
Keterlibatan
siswa dalam asuhan permainan, senam, kegiatan bersama, dan lain-lain, merangsang
perkembangan gerakan yang efisien yang berguna untuk menguasai berbagai
keterampilan. Keterampilan tersebut bisa berbentuk keterampilan dasar misalnya
berlari dan melempar serta keterampilan khusus seperti senam atau renang. Pada
akhirnya keterampilan itu bisa mengarah kepada keterampilan yang digunakan
dalam kehidupan sehari-hari.
3) Terkuasainya Konsep dan Prinsip
Gerak
Pendidikan
jasmani yang baik harus mampu meningkatkan pengetahuan siswa tentang konsep dan
prinsip gerak. Pengetahuan tersebut akan membuat siswa mampu memahami bagaimana
suatu keterampilan dipelajari hingga tingkatarmya yang lebih tinggi Dengan
demikian, seluruh gerakannya bisa lebih bermakna. Sebagai contoh, siswa harus
merigerti mengapa kaki harus dibuka dan bahu direndahkan ketika siswa sedang
berusaha menjaga keseimbangan- nya.
4) Kemampuan Berpikir
pendidikan
jasmani yang efektif mampu merangsang kemampuan berpikir dan daya analisis
siswa ketika terlibat dalam kegiatan-kegiatan fisiknya. Pola-pola permainan
yang memerlukan tugas-tugas tertentu akan menekankan pentingnya kemampuan nalar
siswa dalam hal membuat keputusan. Taktik dan strategi yang melekat dalam
berbagai permainan pun perlu dianalisis dengan baik untuk membuat keputusan
yang cepat dan tepat. Secara tidak langsung, keterlibatan siswa dalam kegiatan
pendidikan jasmani merupakan latihan untuk menjadi pemikir dan pengambil
keputusan yang mandiri.
5) Kepekaan Rasa
Dalam hal olah rasa, pendidikan jasmani tepat untuk
berkomunikasi dan bergaul dalam lingkup sosial. Dalam kehidupan sosial, setiap
individu akan belajar untuk bertanggung jawab melaksanakan peranannya sebagai
anggota masyarakat. Di dalam masyarakat banyak norma yang harus ditaati dan
aturan main yang melandasinya. Melalui penjas, norma dan aturan juga
dipelajari, dihayati dan diamalkan. Sesungguhnyalah bahwa kegiatan pendidikan
jasmani disebut sebagai ajang nyata untuk melatih keterampilan-keterampilan
hidup (life skills), agar seseorang dapat hidup berguna dan tidak
menyusahkan masyarakat. Terkait pula dengan keterampilan sosial, seperti
berempati pada orang lain, menahan sabar, memberikan respek dan penghargaan
pada orang lain, mempunyai motivasi yang tinggi serta banyak lagi.
6)
Keterampilan Sosial
Kecerdasan
emosional atau keterampilan hidup bermasyarakat sangat mementingkan kemampuan
pengendalian diri. Dengan kemampuan ini seseorang bisa berhasil mengatasi
masalah dengan kerugian sekecil mungkin. Siswa yang rendah kemampuan
pengendalian dirinya biasanya ingin memecahkan masalah dengan kekerasan dan
tidak merasa ragu untuk melanggar berbagai ketentuan. Pendidikan jasmani
menyediakan pengalaman nyata untuk melatih keterampilan mengendalikan diri,
membina ketekunan dan motivasi diri. Hal ini diperkuat lagi jika proses
pembelajaran direncanakan sebaik-baiknya. Setiap adegan pembelajaran dalam
permainan dapat dijadikan arena dialog dan perenungan tentang apa sisi baik
buruknya suatu keputusan. Tak pelak, ini merupakan cara pembinaan moral yang
efektif.
7)
Kepercayaan diri dan citra diri (self esteem)
Melalui
pendidikan jasmani kepercayaan diri dan citra diri (self esteem) siswa
akan berkembang (Graham, 1993). Secara umum citra diri diartikan sebagai cara
kita menilai diri kita sendiri. Citra diri ini merupakan dasar untuk
perkembangan kepribadian siswa. Dengan citra diri yang baik seseorang merasa
aman dan berkeinginan untuk mengeksplorasi dunia. Dia mau dan mampu mengambil
risiko, berani berkomunikasi dengan teman dan orang lain serta mampu
menanggulangi stress. Cara membina citra diri ini tidak cukup hanya dengan
selalu berucap "saya pasti bisa" atau "saya paling bagus".
Di situlah penjas menyediakan kesempatan pada siswa untuk membuktikannya.
Ketika siswa berhasil mempelajari berbagai keterampilan gerak dan kemampuan
tubuhnya, perasaan positif akan berkembang dan ia merasa optimis atau mampu
untuk berbuat sesuatu.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Setelah
mengetahui beberapa paparan yang telah dituliskan dalam makalah ini bisa
ditarik kesimpulan bahwa pendidikan jasmani dan olahraga tidak bisa dipisahkan
dalam proses pembelajaran. Sehingga yang bisa dikembangkan adalah dari tenaga
pengajar sendiri yang harus paham betul pendidikan jamani dan olahraga,
mengerti bagaimaana pemberian materi dalam pendidikan jasmani dan bagaimana
pemberian materi dalam pendidikan olahraga. Sehingga apa yang telah diberikan
kepada peserta didik tidak rancu dan tepat pada tujuan pendidikan jasmani dan
pendidikan olahraga.
Bahkan
sudah sangat jelas bahwa dalam pembelajaran yang akan dilakukan sudah memiliki
elemen-elemen yang harus diterakpkan kepada siswa. Jadi sangat memudahkan para
pendidik untuk memberikan pengarahan dan pendidikan agar tercapainya tujuan
yang diharapkan baik institusi pengajar atau orang tua siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Asim.
2013. Gaya Mengajar Pendidikan Jasmani. Malang:
Wineka Media
Harsuki.
2003. Perkembangan Olahraga Terkini. Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada
Rahayu,
T, E. 2013. Strategi pembalajaran pendidikan jasmani. Bandung: Alfabeta

Bagus bro. Sangat membantu...
ReplyDelete