Menikah, pacaran dulu atau tidak atau ta'aruf
وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَات
Bagaimana kabarnya kalian??
Semoga dalam keadaan sehat jasmani dan rohani ya dan selalu dalam lindungan Tuhan yang maha Esa. آمِّين آمِّينَ آمِــــــــــيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِــــــــــيْنَ
Yang belum tahu, saya tesa alex suhendra owner dari cahnnel ini hahahah
Oh yah saya berterimakasih banyak,,, sudah berkanan mampir dichannel saya yah jangan lupa ditonton sampe habis vidio ini yoooo,,,,agar informasi yang didapat secara penuh tidak salah ambil kesimpulan. ok
Dalam tema tupik kali ini, oh iyah saya belum menjelaskan konten tupik ini konten apa sih????
Jadi tupik ini singkatan dari tukar pikiran, intinya begitu..... pemikiran dari saya dan dari sumber-sumber terpercaya yang ke validitasannnya, dan kredibilitasanya, dan kapabilitasannya terjamin pokoknya. gituuuu
Nah kali ini, saya akan membahas tema tentang menikah wah beratkan
Jadi menikah, pacaran dulu atau enggak sih???
Sebelum ke pembahasan jangan lupa dukung channel ini dengan subcribe, nyalakan lonceng, agar tidak ketinggalan vidio terbaru dari saya dan jangan kelewatan juga di like, komentar dan share ya... terimakasih maaf merepotkan, itu gayanya dodit.
Nah, Setiap pasangan tentu memiliki cara tersendiri sebelum meyakinkan diri memasuki tahapan pernikahan. Ada yang memilih untuk menjajaki perkenalan lewat berpacaran lebih dulu, namun ada juga yang sebaliknya. Menikah tanpa pacaran atau dengan cara ta’aruf.
Intinya sih sebelum nikah kenal dulu, kan bahaya nikah belum kenalan heheheh jadi sebelum nikah harus proses penjajakan atau perkenalan sebelum akhirnya berkomitmen ke arah lebih serius. Jadi tahapan pertama untuk mengenal pasangan lebih dalam. Mulai dari sifat, latar belakang, visi misi, keluarganya, dan hal lain yang tak bisa terlihat dari luar akan lebih bisa diketahui. Saran sih tanya para tetangganya soalnya mereka lebih jujur, ini saranku dari sarannya pak Imam pasti eggak tahu beliau siapa, yo wes eggak usah dibahas
Anggapan orang ada berbagai macam ada yang suruhan dari “orang tua yang kerap meingingatkan untuk tidak pacaran. Langsung saja menikah, biar pacarannya nanti setelah sah jadi suami istri,”
Ada yang bilang “nggak bisa ya kalau sampai menikah dengan orang yang tidak dikenal dengan baik, minimal sudah tahu bibit, bebet, bobotnya dulu. Jangan sampai menyesal di kemudian hari dan tahu buruk-buruknya setelah menikah,”
Ada juga yang sudah memahami dan mengikuti tuntunan agama dengan memilih cara ta’aruf.
Nah saya kali ini mau membahas dari pandangan beberapa penelitian yang saya peroleh ya.
Terkait dengan proses berpacaran dan hubungannya dengan kebahagiaan pernikahan pun pernah dianalisis dalam beberapa penelitian. Dalam sebuah penelitian bernama the PAIR Project oleh Penn State University, fakta mengenai hal ini diungkapkan.
Sebanyak 168 responden pasangan yang sudah menikah lebih dari 14 tahun diamati kepuasan mereka dalam menjalani pernikahan. Hasilnya menunjukkan bahwa pasangan yang dulunya menjalani hubungan 25 bulan berpacaran rupanya memiliki rumah tangga yang paling membahagiakan.
Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan pasangan yang lebih cepat menikah. Dari penelitian yang sama, pasangan yang menikah kurang dari 18 bulan berpacaran, memiliki durasi pernikahan yang jauh lebih singkat, yakni hanya 7 tahun lalu bercerai.
Penelitan lainnya pun mengemukakan hal serupa. Sebanyak 3000 pasangan dianalisis oleh peneliti dari Emory University. Hasilnya menunjukkan bahwa pasangan yang sebelumnya berpacaran selama 3 tahun atau lebih bisa menurunkan risiko perceraian sebanyak 39% dibandingkan pasangan yang berpacaran kurang dari setahun setelah perkenalan. Tak hanya itu saja, pasangan yang masa pacarannya 2 tahun ternyata juga mengurangi risiko perceraian sebanyak 20%.
Prinsip masing-masing orang tentang pernikahan tidak selalu sama. Ada yang memilih waktu pacaran yang singkat, tapi langsung menikah. Namun, ada juga yang ingin melalui masa kenalan dan pendekatan yang lama.
Memangnya, berapa lama masa pacaran yang ideal sebelum menikah?
Ada ini menurut Rachel A. Sussman, seorang pakar hubungan di Sussman Counseling di New York, menjelaskan bahwa empat tahun dianggap sebagai masa pacaran yang ideal untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.
Pernyataan ini diperkuat oleh penelitian dari Emory University, yang dilakukan pada lebih dari 3.000 orang yang telah menikah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasangan yang berpacaran dua tahun memiliki peluang perceraian yang lebih rendah ketimbang dengan pasangan yang hanya berpacaran selama satu tahun. Bahkan, peluang perceraian akan semakin menurun hingga 50 persen bagi mereka yang melewati masa pacaran selama tiga tahun atau lebih.
Nah, yo opo kalau pacaran singkat?
adakan pasangan yang memutuskan untuk segera menikah, meskipun baru menjalani masa pacaran yang sebentar. Kalau menurut Terri Orbuch, Ph.D, seorang profesor di Oakland University sekaligus penulis buku berjudul 5 Simple Steps to Take Your Marriage From Good to Great, mengungkapkan bahwa sangat mungkin pasangan yang baru sebentar pacaran belum mengenal satu sama lain secara utuh.
Tambahnya lagi kata Om Orbuch ini, biasanya cukup sulit untuk membangun kepercayaan serta benar-benar mengenal kepribadian pasangan lebih dalam, bila hanya dilakukan dalam waktu yang singkat.
Akan tetapi kembali lagi, jika Anda dan pasangan sudah bisa saling memegang dan menjaga komitmen yang telah dibuat bersama, nantinya pernikahan Anda juga tidak kalah harmonis dengan pasangan yang menjalani masa pacaran cukup lama, kok.
Nah itukan tadi yang menggunakan pacaran dan tidak,,,bagaiaman kalau ta’aruf seefisien apa cara ini?????
Jadi saya sudah mengumpulkan jurnal Penelitian dari berbagai universitas diindonesia. Jadi yang pertama dari
Puput hd utami, tahun 2019 yang berjudul Perbedaan kepuasan pernikahan pada pasangan suami istri yang menikah melalui pacaran dan ta’aruf, dari kampus universitas islam Indonesia
Hasilnya: pasangan pasutri yang menikah dengan cara ta’aruf memiliki tingkat kepuasan pernikahan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasangan yang menikah melalui cara pacaran, faktor yang mempengaruhi perbedaan ini adalah faktor religiusitas
Jurnal dari Arika zulfitri karim, dinie ratri desiningrum, tahun 2015 yang berjudul Dari ta’aruf hingga menikah: eksplorasi pengalaman penemuan makna cinta dengan interpretative phenomenological analisis, dari universitas dipenegoro
Penelitian menemukan bahwa dalam proses ta’aruf cinta tumbuh dalam diri subjek setelah menikah. Pada proses sebelum ta’aruf, subjek memaknai cinta secara negatif sebagi nafsu dan lebih menjaga perasaan cinta tidak tumbah sebelum menikah. Sedangankan proses ta’aruf hingga menikah, individu mengalami berbagai peristiwa yang memunculkan nilai-nilai dalam situasi hingga mengantarkannya pada penemuan makna cinta. Penemuan makna cinta dari subjek diantaranya bahwa sebuah pengorbanan, perubahan ke arah positif. Saling melengkapi dan memahami, serta pemberian tanpa pamrih.
Iis ardianita dan budi andayani, volume 32, No. 2, 101-111 yang berjudul kepuasan pernikahan ditinjau dari berpacaran dan tidak berpacaran, dari universitas gajah mada
Hasilnya menunjukkan bahwa kepuasan pernikahan kelompok menikah tanpa berpacaran lebih tinggi dari pada kelompak yang menikah dengan berpacaran sebelumnya. Asumsi sebelumnya adalah bahwa subjek yang berpacaran sebelum menikah lebih puas pernikahannya ternyata tidak terbukti. Hal ini dapat saja disebabkan kelompok subjek tidak berpacaran sebelum menikah yang terlibat dapat penelitian mempunyai tingakt religiusitas lebih tinggi dibandingkan kelompok subjek yang berpacaran.
Sebenarnya, waktu menikah atau cara yang diambil itu tergantung kesiapan diri setiap orang. Pacaran yang lama maupun sebentar, atau mengguanakan cara ta’aruf atau dijodohkan atau yang lainnya itu tidak bisa dijadikan tolak ukur kelanggengan rumah tangga Anda kelak. Sebab pada dasarnya, perceraian dan konflik rumah tangga lainnya merupakan masalah sosial yang sulit diukur hanya dengan angka.
Daripada harus pusing memikirkan masa pacaran yang ideal, atau cara yang ideal yang mana,,, lebih baik tanyakan kembali pada diri Anda dan pasangan sudah siap atau belum untuk mengarungi bahtera rumah tangga nantinya.
Jika Anda dan pasangan sudah sama-sama mantap untuk melanjutkan ke tahap yang lebih serius, kenapa tidak? Namun bila Anda masih perlu sedikit waktu, tentu tidak masalah untuk kembali mencoba lebih memantapkan hati.
intinya tidak ada patokannyalah itu kembali kepada dua belah pihak bagaimanan untuk bisa menjalin rumah tangga yang kayak keluarga cemara atau yang lainnya,,,.
Namun jika dilihat dari survei dan penelitian tersebut bisa disimpulkan bahwa semakin lama waktu pacaran, semakin rendah kemungkinan pasangan untuk bercerai di kemudian hari. Tapi kalau memang mau ta’aruf tergantung lagi dengan religiusitasnya,
Intinya sih mau cara apa yang diambil, kaga pingin tuh setelah menikah malah enggak susuai harapan atau malah berpisah huh نعوذ بالله من ذلك
Namun yuk kita berdoa kan semua pasti ingin menikah kan, ingin punya rumah tangga seperti keluarga cemara.
Hayuk sama-sama, ya اَللّهُ ya tuhan kami ....
Semoga kita yang belum menemukan jodohnya segera dipertemukan, bagi kami yang sudah menjalin hubungan segera dimantapkan niatnya, bagi kami yang lagi ta’aruf dimudahkan dan mendapatkan ridho اَللّهُ, yang sudah menikah diberikan kelanggengan diberikan kemudahan menjalani behtera pernikahan dan menjadi keluarga cemara dan syakinah mawadah warohmah.
Hufffftttt ...
Cepek yah pokoknya kalau bahas soal beginian ini yo lucu, yo ngregetno, ya membingungkan, yoh hoalaaaaah arep bahagia saja kok susah amat ahahahahahaha
Jadi sekarang bisa panjenengan simpulkan mana yang baik dan yang paling cocok untuk kalian, mau ambil jalan yang mana setiap pilihan selalu ada sisi negatif dan positifnya ..jadi kalau mau makan dirumah makan yang berbeda itu menu dan rasanya pasti memiliki perbedaan
Sudah ya, semoga bermanfaat dan mohon dukungan untuk keberlanjutan channel ini agar bisa tetap memberikan informasi yang insya allah dapat berguna buat saya pribadi atau teman-teman yang menonton.
Ok saya akhiri dulu, terimakasih
وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَات
Ssehat selalu yo Jum....
0 comments: